Jumat, 11 November 2011

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAPAT MENAMBAH WACANA BARU PADA PROSES PENDIDIKAN

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAPAT MENAMBAH WACANA BARU
PADA PROSES PENDIDIKAN

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu Semester II
Program Strata Satu Fakultas Tarbiyah
Mata Kuliah : Antropologi Pendidikan
Dosen
SOBARI. WS, S.Pd, M.Pd

Oleh
MUHAMAD MUHLASIN
2093580

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(STAINU) KEBUMEN
2010
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, kami panjatkan kehadhirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kami, sehingga kami dapat menyusun tugas makalah yang berjudul “KONSEP ANTROPOLOGI PENDIDIKAN DALAM PERUBAHAN SOSIAL-BUDAYA” ini dengan lancar.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Pendidikan pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAINU) Kebumen, semester II, Program S1, Pendidikan Agama Islam Tahun Akademik 2009/2010
Terima kasih kami sampaikan pada semua pihak yang telah membantu dalam kami menyusun makalah ini, khususnya terima kasih kami sampaikan pada Bapak Sobari WS, S.Pd.M.Pd., selaku Dosen pengampu mata kuliah Manajemen Pendidikan.
Semoga makalah yang sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi kamu khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Amin.


Kebumen, Juni 2010

Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seni adalah hasil kreasi dan kreatifitas yang diolah secara halus dan sederhana. Perwujudan seni tergerai dari dinamika proses intuitif dan logika kemanusian, diwujudkan melalui ketekunan dan kehalusan budi, yang sangat ditentukan oleh ilmu, moral dan ketakwaan manusianya terhadap sang pencipta. Ini dasar dalam proses pembelajarannya. Tak sekedar terampil sebagai musisi, penari, perupa, dramatur, atau sastrawan, tapi lewat seni mampu mencapai kedewasaan akhlak dan tabiat seorang.
Sepatutnya dasar pembelajaran seni ini diterapkan dalam kompleksitas formal mulai pendidikan PAUD hingga perguruan tinggi. Di sinilah perlunya perhatian dan apresiasi pentingnya pendidikan seni budaya sehingga mampu menunjang keberhasilan pembelajaran seni budaya, tidak sekedar bidang ilmu tetapi juga memiliki keterampilan.
Agaknya kita perlu menegok bagaimana institusi pendidikan dasar dan menengah di wilayah sekitar Jakarta, Jogja, Bandung, dan Bali melaksanakan pendidikan dan pengajaran seni di sekolah. Di empat daerah itu pembelajaran seni demikian maju, bahkan di sekolah desa-pun tersedia guru seni dari berbagai kompetensi disiplin seni, seperti: sastra, teater, tari, musik, rupa, dan keterampilan seni berbasis komputer. Pembelajaran seni budaya meluas dan bersinergi dalam pembelajaran disiplin ilmu lainnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan penulis bahas dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana pendidikan seni budaya di Indonesia?
2. Bagaimana pendidikan Seni budaya dapat berperan dalam pendidikan di sekolah dan masyarakat?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Memberikan gambaran dan pemahaman tentang pendidikan seni budaya.
2. Masukan bagaimana pendidikan seni budaya dapat memberikan manfaat dalam proses pendidikan.
3. Memenuhi tugas individu pada mata kuliah Antropologi Pendidikan pada STAINU Kebumen tahun akademik 2009/2010.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan Seni dan Budaya
Dunia pendidikan seni budaya sebagai satu fase perkembangan dalam pengetahuan manusia. Dan pendidikan seni budaya juga harus diletakan pada perspektif yang benar searah dengan hidupnya manusia sebagai bagian dari lingkungannya. konsep dan refleksi yang terus menerus untuk bisa memberikan kesadaran yang universal terhadap perkembangan seni budaya, baik dalam mengapresiasi karya atau terlibat sebagai pelaku karya.
Wawasan multikultural dalam pendidikan seni merupakan hal yang penting agar pada akhirnya kalangan siswa dan masyarakat luas mampu menghargai perbedaan secara tulus, komunikatif dan terbuka, serta tidak saling mencurigai. Selain untuk meningkatkan apresiasi dan kreasi seni, tanpa keterbukaan, apa pun yang berbeda selalu dicurigai dan dianggap musuh. Padahal, harapannya mereka yang mempelajari beragam seni dan budaya secara baik dan benar akan lebih mudah bersikap toleran dan memiliki kesadaran bahwa semua seni dapat menyumbangkan sesuatu, tidak ada satu pun yang superior daripada lainnya. Melalui pertimbangan yang bersifat multikultural pendidikan seni diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa menuju masyarakat egaliter.
Peran seni yang bersifat multikultural ini dapat dijadikan pemersatu bangsa dengan kemampuan manusia untuk saling menghargai akan adanya perbedaan. Melalui pemahaman dan penghayatan serta penghargaan terhadap budaya Indonesia dan global diharapkan bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang berkarakter. Selanjutnya melalui pendidikan seni yang multikultural ini, manusia Indonesia diharapkan mampu memiliki ketahanan budaya dan menunjukkan jati diri sebagai bangsa yang beradab.
Dalam kegiatan belajar seni yang benar, pengolahan otak kanan agar kemampuan berfikir holistik, kreatif, imajinatif, intuitif dan humanistik perlu dikembangkan secara optimal. Selain itu pendidikan seni dapat pula mengoptimalkan kemampuan belah otak kiri. Jadi dalam pendidikan seni, keseimbangan dan keterpaduan manusia otak kanan dan kiri dapat digunakan secara optimal.

B. Akar Seni dan Budaya
Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal secara inheren lewat pendidikan seni yang diwujudkan dalam bentuk konsep dan perilaku seni, dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya sebagai bagian dalam upaya membangun identitas bangsa dan sebagai semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya “yang lain”. Nilai-nilai kearifan lokal itu meniscayakan fungsi dan strategis bagi pembentukan karakter dan identitas bangsa. Pendidikan yang menaruh kepedulian terhadapnya akan bermuara pada hal di atas dan munculnya sikap yang mandiri, penuh inisiatif dan kreatif. Nilai-nilai tersebut menjadi bercitra Indonesia karena dipadu dengan nilai-nilai lain yang sesungguhnya diderivasikan dari nilai-nilai budaya lama yang terdapat dalam berbagai sistem budaya etnik lokal. Kearifan-kearifan lokal itulah yang membuat suatu budaya bangsa memiliki akar. Hal tersebut akan menjadi lebih jelas tatkala kita menyadari bahwa budaya post-kolonial, yang diarungi bangsa ini cukup lama, pada dasarnya merupakan persilangan dialektika antara ontology/epistimologi yang lain dan dorongan untuk mencipta dan mencipta ulang identitas lokal yang indevenden, yang digali dari sumur-sumur kearifan lokal pula.
Budaya bisa diartikan dari sudut pandang nilai, norma dan artifak yang mana budaya bisa dibedakan secara abstrak dari nilai dan norma yang dimilkinya ataupun secara kongkrit dari peninggalan barang atau benda yang ada.
Budaya bisa pula dipandang sebagai sebuah ciri peradaban manusia, yang mana eksistensinya dipandang dari keunikan dan ciri khas yang dimilikinya. Namun dalam pandangan ini, sistem terjadi pembedaan antara beradaban dengan primitive beserta kesukuan.
Dalam pandangan yang lebih luas lagi, budaya merupakan ciri kehidupan di dunia yang terus berevolusi dan oleh karena itu semua produk budaya yang ada pada dasarnya sama karena sama - sama merupakan produk dari proses evolusi manusia itu sendiri.
Perkembangan kehidupan manusia yang semakin cepat berubah saat ini menyebabkan perlunya suatu usaha untuk mengelola perubahan- perubahan yang ada saat ini, termasuk perubahan budaya, secara terarah, sistematis dan strategis. Sudut pandang budaya yang berbeda-beda, keanekaragaman budaya yang ada itu sendiri, tentunya sangat sulit untuk menjadi pegangan dalam mengiventarisir semua sumber daya yang kita miliki yang berkaitan dengan budaya itu sendiri.
Kesadaran akan perubahan yang begitu cepat memang harus mengilhami institusi formal yang mengajarkan pendidikan seni budaya. Bukannya malah terdiam dengan kerja rutin belajar mengajar, lebih-lebih tanpa ada upaya penyegaran isian mata ajar. Sebagaimana arus perubahan baik wacana dan karya di masyarakat belakangan ini, yang tidak saja menyodorkan karya seni lukis, patung, kriya dan desain, tetapi juga telah semarak dengan munculnya berbagai kemungkinan kreatif yang mendobrak kategorisasi seni tadi. Yang masih tetap berujung pada akar budaya sendiri, sehingga pondasi yang dibangun memiliki kekuatan yang sudah sangat mengakar.
Untuk itu, upaya memperbarui isian mata pengajaran menjadi langkah yang urgen dilakukan. Tentu juga dalam menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga seni rupa di masyarakat penting ditingkatkan ruang lingkupnya dalam upaya membangun link-link yang berkarakter dan memiliki ruang lingkup general dan global.

C. Seni Budaya dalam Pendidikan
Dalam dunia pendidikan pada dasarnya membutuhkan beberapa hal penting bagi perkembangan individu. Perkembangan tersebut secara umum meliputi; kreativitas, emosi, intelektual, persepsi serta kemampuan untuk berinteraksi dengan baik ditengah masyarakat. Kesemuanya itu terkait erat dengan kecerdasan emosional. Terbentuknya integritas kepribadian siswa, antara lain dicirikan oleh kehalusan rasa, sikap apresiatif, kreatif dan produktif salah satunya diyakini sebagai hasil pembelajaran seni. Hal ini harus menjadi bahan pertimbangan yang matang bagi para perumus kebijakan pendidikan.
Berbagai perilaku kontra produktif yang kurang santun dari siswa dewasa ini merupakan fakta yang mengindikasikan betapa peran pembelajaran seni belum menyentuh pada tingkat esensinya yakni kepekaan cita rasa dan kehalusan pekerti serta belum mampu memicu semangat dan daya nalar siswa untuk kreatif. Asumsi yang muncul berkaitan dengan hal tersebut ialah, bahwa ada sesuatu yang kurang dalam pelaksanaan pembelajaran seni selama ini. Oleh karena itu, semua pihak yang terkait, termasuk guru seni perlu lebih cermat mendalami substansi dan konteks pembelajaran seni dengan lebih jelas dan proposional, sehingga tujuan pembelajaran seni dapat tercapai secara optimal dan relevan dengan kebutuhan individu siswa dan masyarakat.
Dalam konsepsi pendidikan, secara teoritik gambaran tentang manusia Indonesia telah tertuang secara jelas dalam rumusan tujuan pendidikan Nasional Indonesia yakni manusia seutuhnya. Pendidikan seni dalam dunia pendidikan memiliki keterkaitan dengan paham progresif yang mementingkan kebebasan, keaktifan dan kreatifitas, sebab karakteristik kegiatan seni tidak lepas dari sifat tersebut. Sehingga melalui pendidikan seni diharapkan dapat melahirkan generasi yang kreatif, memiliki akal dan kehalusan budi dalam mengantisipasi perubahan yang terjadi di masyarakat.
Apabila dicermati, seni memiliki dua aspek yang berguna bagi manusia yakni aspek produk dan aspek prosesnya. Pertama produk atau karya seni bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia karena dengan menghayati karya seni seseorang dapat memahami kemungkinan cara baru dalam berfikir, merasakan dan membayangkan, dengan demikian karya seni memiliki banyak informasi tentang kehidupan. Manfaat seni yang kedua, yakni proses berkarya seni. Di dalam proses kegiatan berkesenian terjadi beberapa aktivitas fisik dan psikologis yang dapat merangsang potensi-potensi pada diri manusia untuk berkembang baik pertumbuhan fisik maupun mentalnya. Oleh sebab itu seni berperan dalam pendidikan guna mencapai tujuan sesuai dengan karakter dan potensi yang dimiliki oleh seni.
Sebagaimana yang diuraikan sebelumnya, telah disepakati bahwa pelajaran kesenian memiliki kedudukan penting sebagai bagian dari sistem Pendidikan Nasional. Namun masih banyak kalangan masyarakat belum memahami kenapa itu penting, masih banyak kalangan pengelolah pendidikan belum memahami bagaimana melaksanakan pendidikan seni yang efektif bagi perkembangan siswa. Selain itu masih banyak guru belum mengetahui bagaimana mengajarkan kepada siswa dan yang sangat memprihatinkan adalah banyak pemegang kebijakan dalam dunia pendidikan belum memngetahui bagaimana pentingnya seni dalam mencapai tujuan pendidikan. Seperti apa yang diungkapkan Ki Hadjar, maupun oleh peneliti dari dunia barat sesuangguhnya sangat penting sebagai suatu strategi dalam tujuan pendidikan, yaitu perkembangan kepribadian siswa menjadi lebih utuh karena kegiatan seni mengimbangi perkembangan logika dengan memperkuat kepekaan rasa, emosi dan imajinasi sebagai bagian mental manusia yang menjadikan manusia menjadi lebih manusiawi.

D. Tujuan Pendidikan Seni
Tujuan pendidikan pendidikan seni terdiri dari apresiai seni, wawasan seni, kritik seni dan kegiatan produktif. Di Indonesia tujuan pendidikan seni dan budaya :
1. Mengembangkan kepekaan rasa
2. Mengembangkan kreativitas
3. Mengembangkan cita rasa estetis
4. Mengembangkan etika
5. Mengembangkan kesadaran social
6. Mengembangkan kesadaran cultural
7. Mengembangkan rasa cinta terhadap kebudayaan Indonesia.
Kepekaan rasa dan cita rasa estetis dapat menjadi satu kelompok wilayah kepekaan emosional atau rasa yang berhubungan dengan estetik. Kemudian kesadaran kultural, cinta budaya Indonesia, kesadaran sosial dapat timbul jika siswa memiliki kepekaan dan kritis dalam melakukan apresiasi terhadap hasil seni budaya. Sehingga tujuan ini merupakan dampak dari kepekaan dan apresiasi. Etika memiliki korelasi dengan kepekaan estetik karena keduanya merupakan suatu kebaikan; etika adalah kebaikan perilaku dan estetika adalah kebaikan penampilan. Kemampuan kreatif sangat berbeda dengan kepekaan rasa, karena kreatif lebih pada wilayah kemampuan berimajinasi sehingga mendapatkan gagasan-gagasan baik untuk pemecahan masalah atau memang sebagai gagasan murni tentang sesuatu yang belum pernah ada. Namun demikian estetika dan kreativitas dalam karya seni berjalan seiring dan saling menunjang.
Dalam konteks pendidikan seni, hasil seni dan budaya dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran untuk dihayati, dianalisa dan selanjutnya sebagai pijakan dalam menciptakan seni dan budaya yang baru dengan tidak meninggalkan ciri dan budaya yang telah ada. Selain sebagai landasan penciptaan, hasil seni budaya bangsa dapat pula dijadikan sebagai media untuk mengasah kepekaan yang berhubungann dengan estetika. Jadi hasil-hasil peradaban bangsa Indonesia yang telah ada sangat penting untuk diperhatikan, diresapi, dihayati baik nilai filosofi kehidupan dan keindahan yang tersimpan di dalamnya.

E. Seni Budaya Konsep yang Membumi Pada Masyarakat
Segala bentuk kegiatan seni budaya merupakan bagian integral dari program pendidikan lain yang mencakup kreatifitas dan ketrampilan siswa/I dalam mengekspresikan gagasannya.
memahami dan mampu mengimplementasikan berbagai kriteria pemilihan bahan. Kriteria dimaksud misalnya mudah didapat dan ramah lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi edukatif maupun estetis, di samping memperoleh peluang untuk mengadakan transaksi (nilai yang dihadirkan dalam, oleh, atau dengan karya seni). Kita hendaknya selalu menyadari bahwa seni yang diajarkan hanyalah sekadar sarana untuk mengantarkan para siswa/siswi meniti jenjang kedewasaan sebagai manusia berbudaya, sehingga pendidikan seni budaya tidak boleh diisolasikan dari pendidikan bidang studi lainnya. Ia tetap merupakan bagian dari upaya pendidikan dalam keseluruhannya, oleh karena pemenuhan fungsi pendidikan, baik yang bersifat cultural, ideologis, maupun praktis harus tetap diperhatikan. Upaya-upaya yang dilakukan dalam pelaksanaan pendidikan seni, merupakan bagian yang bertujuan untuk menghadirkan dan menjadikan anak didik kita menjadi manusia yang berbudaya dan bermoral yang berorientasi pada akar budaya yang membumi.
Pendidikan seni budaya di setiap pendidikan dapat membentuk manusia yang mengemban kepekaan estetis, daya cipta, intuitif, imajinatif, inovatif dan kritis terhadap lingkungannya.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di atas, maka dapat penulis simpulkan sebagai berikut:
1. Peran seni budaya dapat dijadikan pemersatu bangsa dengan kemampuan manusia untuk saling menghargai akan adanya perbedaan. Melalui pemahaman dan penghayatan serta penghargaan terhadap budaya Indonesia dan global diharapkan bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang berkarakter.
2. Dalam dunia pendidikan pada dasarnya membutuhkan beberapa hal penting bagi perkembangan individu. Perkembangan tersebut secara umum meliputi; kreativitas, emosi, intelektual, persepsi serta kemampuan untuk berinteraksi dengan baik ditengah masyarakat.
3. Dalam konteks pendidikan seni, hasil seni dan budaya dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran untuk dihayati, dianalisa dan selanjutnya sebagai pijakan dalam menciptakan seni dan budaya yang baru dengan tidak meninggalkan ciri dan budaya yang telah ada.

DAFTAR PUSTAKA

Dewantara, Ki Hadjar (1994), Karya Ki Hajar Dewantara Bagian II Kebudayaan, Yogyakarta, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Tim Pengembang Pendidikan Seni PPPG Kesenian (2003), Laporan Pengembangan Diklat Guru Pendidikan Seni Sekolah Non Kejuruan, Yogyakarta, PPPG Kesenian.

Diklat Seni dan Budaya Guru Seni SMK Non Kesenian, P4TK Seni Budaya Yogyakarta, 2007

1 komentar:

aden mengatakan...

nice information